Social Icons

Pages

Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Oktober 2013

Eksistensi Pancasila Melalui Nilai


Source: Wikipedia

Pancasila, jika mendengar satu kata tersebut apa yang terpikir dalam benak Anda? Sebuah dasar negara? Ideologi bangsa? Atau hanya sebatas simbol yang melengkapi negara Indonesia ini? Di zaman yang serba maju, modern dan bebas ini, tak heran jika banyak masyarakat Indonesia tak ‘kenal’ Pancasila, apalagi meresapi nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila itu sendiri. Bahkan yang lebih parahnya, ada yang sampai tak hafal lima sila dalam Pancasila. Lalu, jika keadaan sudah seperti ini, bagaimana kita bisa menjaga eksistensi Pancasila? Apalagi menggunakannya sebagai identitas bangsa di komunitas global dan multikultural.

Sebagai generasi muda, yang seharusnya mempertahankan nilai-nilai Pancasila agar tetap berdenyut di dalam jiwa masyarakat Indonesia malah tak acuh dengan keadaan yang semakin kritis ini. Efek globalisasi mungkin menjadi salah satu penyebabnya. Masuknya budaya-budaya barat, ideologi, serta pemikiran-pemikiran yang semakin menjauhkan pemuda Indonesia dari Pancasila merupakan ancaman yang harus segera dimusnahkan. Dengan apa? Ya dengan Pancasila itu sendiri. Bagaimana caranya? Nah, ini yang perlu direnungkan. Sebenarnya, jika para pemuda Indonesia mau meresapi nilai-nilai pancasila, menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, serta tidak malu menggunakannya sebagai identitas bangsa, maka Pancasila akan terus eksis, tidak hanya di dalam negeri, bahkan hingga ke luar negeri.

Sebenarnya apa sih nilai-nilai Pancasila itu? Nilai berarti berharga, berguna, baik, benar. Jadi, nilai-nilai Pancasila itu berarti sesuatu yang berharaga, berguna yang terkandung dalam Pancasila. Memangnya apa sih yang berharga dari Pancasila? Ya jelas lima sila dalam Pancasila. Mulai dari sila pertama, terkandung nilai religius, sila kedua terkandung nilai kemanusiaa, sila ketiga terkandung nilai persatuan bangsa, sila keempat terkandung nilai kerakyataan, dan dalam sila kelima terkandung nilai keadilan sosial. Lalu, letak berharganya di mana? Baiklah, coba baca lagi satu per satu, mulai dari sila pertama hingga kelima. Kesemua nilai tersebut merupakan vitamin yang diperlukan oleh seluruh masyarakat Indonesia untuk menjadi pribadi yang benar-benar bermartabat. Pancasila itu mencakup seluruh segi kehidupan bangsa Indonesia. Bahkan nilai-nilai tersebut bersifat fleksibel, tidak hanya bisa digunakan oleh masyarakat Indonesia saja, melainkan seluruh bangsa di dunia pun bisa menerapkannya.

Terus apa hubungannya dengan Pancasila sebagai identitas bangsa di komunitas global dan multikultural seperti yang dijelaskan di awal tadi? Nah, sekarang hubungkan antara nilai-nilai pancasila, penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, dan eksisnya pancasila di dalam maupun luar negeri. Dari hubungan ketiganya dapat dilihat bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila merupakan cerminan bangsa Indonesia. Dengan penerapan nilai-nilai Pancasila, bangsa Indonesia memiliki ciri yang khas, yang melekat pada setiap masyarakat Indonesia, sehingga hal tersebut dapat memperkuat identitas bangsa Indonesia di dalam komunitas global dan multikultural.

Saat-saat seperti sekarang ini, di mana globalisasi sedikit demi sedikit mengaburkan sekat-sekat budaya, mengikis ideologi bangsa, hingga membuat suatu bangsa tak lagi mengenal dirinya, budaya, bahkan ideologinya. Dengan penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan, diharapkan hal tersebut dapat membendung efek negatif globalisasi yang semakin meracuni bangsa Indonesia, sehingga identitas bangsa Indonesia tetap terjaga, baik di dalam maupun di luar negeri. 

-rdp-

Sejarah (?) Indonesia

I-n-d-o-n-e-s-i-a. Rangkaian beberapa huruf tesebut bukan sekonyong-konyong ada dengan sendirinya. Namun, satu kata tersebut terbentuk dengan perjuangan, dengan tetesan darah para pejuang di masa silam. Bukan hanya sehari dua hari, tapi beratus-ratus tahun para pejuang negeri ini menguras tenaga, pikiran dan darah mereka demi membentuk satu kata tersebut. Indonesia, sejarah panjang telah tercipta karenanya. Jejak para pejuang telah terekam jelas di sepanjang jalan-jalan di Indonesia. Suka rela mereka maju di garis terdepan demi terciptanya kata ‘Indonesia’, demi anak cucu mereka yang kelak akan bangga dengan satu kata yang mereka persembahkan. Indonesia.

Waktu telah berputar, sejarah menjadi masa lalu. Kenangan yang sebenarnya tidak boleh terlupakan. Karena sejarah, manusia ada. Sayang, sejarah perjuangan demi terbentuknya Indonesia yang sekarang menjadi negeri yang merdeka ini lambat laun tersisih. Sejarah tentang ‘Ir. Soekarno’ tergantikan dengan sejarah terbentuknya ‘girlband Korea’, sejarah tentang ‘Perang Diponegoro’ tergantikan dengan sejarah ‘Harlem Shake’, sejarah tentang lagu ‘Indonesia Raya’ tergantikan sejarah terciptanya lagu-lagu ‘Justin Bieber’, dan sejarah-sejarah lain yang sudah bergeser kedudukannya. Entah ini salah siapa, yang pasti kedudukan sejarah semakin lama semakin teriris tipis.
Banyak yang bilang, efek globalisasi menggerus rasa nasionalisme. Terbukti, semakin derasnya arus informasi yang masuk dan semakin lancarnya komunikasi antarnegara menjadikan tingkat nasionalisme rakyat Indonesia meleleh. Sedikit demi sedikit mengikuti trend yang sedang berkembang di mancanegara.

Gaul. Istilah yang sering digunakan para pemuda demi mendasari keinginan mereka untuk mengikuti trend yang sedang mendunia, hingga menyingkirkan sejarah negara mereka sendiri. Ini menyebabkan budaya dan pemikiran mereka menjadi berhaluan ‘barat’. Bukan berarti tidak bagus, tapi banyak sisi negatifnya. Budaya barat yang tidak sesuai dengan budaya ketimuran menyebabkan para pemuda sering dianggap melupakan tata norma kesantunan dan kesopanan, ciri khas budaya Indonesia. Pemikiran yang meniru pemikiran barat sebenarnya membawa dampak positif demi kemajuan individu itu sendiri, tetapi kadang hal tersebut malah menjerumuskan mereka untuk meninggalkan sejarah, bahkan negara sendiri.
 
Penyakit yang dibawa globalisasi pada rakyat Indonesia memang susah sekali untuk dicegah, apalagi disembuhkan. Semakin hari virusnya semakin menyebar hingga ke pelosok, seakan-akan bisa menghapus eksistensi sejarah yang hingga kini masih bertahan meski dalam keadaan tak sekuat dahulu. Memprihatinkan memang, tapi agaknya dari sekian banyak yang terjangkiti penyakit globalisasi masih ada beberapa orang yang tetap mempertahankan sejarah Indonesia dalam jiwa mereka. Buktinya, Sejarah masih menjadi mata pelajaran wajib di sekolah-sekolah. Semoga dengan adanya mata pelajaran tersebut, para tunas bangsa bisa mengenal negara mereka lebih dalam lagi. Harapannya mereka bisa sekuat tenaga menjaga keutuhan dan kemakmuran negara ini, seperti perjuangan para pendahulu mereka yang bersusah payah membentuk kata ‘Indonesia’ beserta nilai-nilai di dalamnya. 

-rdp-
 
Blogger Templates