Social Icons

Pages

Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Agustus 2016

PERNIKAHAN

Gambar nyomot dari sini


Hey-yoooo!! 
Balik nge-blog lagi xD (cara naruh emoticon di blog gimana sih? --")
Setelah sekian lama aku menunggu #gakwoy
Setelah sekian lama saya bongkar-bongkar, akhirnya ketemu juga password-nya xD (bego emang saya --")
Dan... Setelah dihitung-hitung saya punya 8 blog yang tak terurus (dan isinya alay semua #plak)


Oke, jadi kali ini saya mau curhat seperti yang tertera di atas #ahelahhh
Banyak yang tanya, kenapa gak punya pacar? Kenapa gak mau nikah padahal sudah waktunya? Mau gak dikenalin sama ini? Dan lain sebagainya. Hayati lelah dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu >,<
Bukannya saya pemilih atau gimana, cuma mungkin cara pandang saya terhadap entitas berjenis kelamin laki-laki itu sedikit agak mengerikan (?) sebenarnya (kecuali sama ayah dan kakek saya tentunya, eh tambah kakak saya ding :D). Saya susah percaya dengan laki-laki, apalagi kalau sudah bawa-bawa kata "pernikahan". Ada suatu ketakutan tersendiri (kalau disebut paranoid agaknya terlalu berlebihan ya --") apabila sudah membayangkan tentang pernikahan. Jika sudah ada yang menyebut kata pernikahan, pasti saya langsung membayangkan, wah jangan-jangan nanti begini, jangan-jangan nanti jadi begitu, dan pikiran-pikiran negatif lain. Sebenarnya saya sudah berusaha menepis (astaga bahasanyaa --") pikiran-pikiran itu, mencoba berpikir positif, tapi tetap tidak bisa. 


Mungkin ketakutan itu disebabkan keadaan lingkungan tempat saya tinggal ya (read: keluarga). Kisah-kisah kegagalan pernikahan di keluarga itu yang membuat saya berpikir ribuan kali kalau harus menghadapi yang namanya pernikahan. Ayah, ibu, kakak, bahkan kakek-nenek saya pernah mengalami yang namanya perceraian (baik yang resmi ataupun belum resmi). Rata-rata mereka berpisah dengan keadaan yang tidak baik-baik saja. Bahkan kadang membuat saya menangis kalau ingat cerita-cerita di masa lalu. Salah satunya pernah saya post di sini. Dari situlah saya memandang sebuah pernikahan itu sebagai sesuatu yang sangat-sangat berat dan menakutkan. Saya tidak mau mengalami seperti apa yang mereka alami di masa lalu. 


Walau begitu, bukan berarti saya membenci pernikahan atau antipati, mungkin saya cuma butuh waktu untuk mempersiapkan mental saya. Butuh waktu untuk belajar dan belajar lagi. Butuh waktu untuk berusaha menerima orang lain (yang mungkin asing) di kehidupan saya. Dan tentunya butuh waktu untuk meluruskan pemikiran saya tentang pernikahan. 


Saya harus mencari orang yang benar-benar menerima, tidak hanya saya, tapi juga keluarga saya dengan keadaan yang yahhh... begitulah. Mungkin kebanyakan orang tidak tau bagaimana masa lalu keluarga saya. Mungkin banyak orang yang menyangka kehidupan saya selalu menyenangkan. Bila itu yang ada di pikiran orang-orang, maka jawabannya adalah... NO, BRO! YOU'RE WRONG. Ibarat kata orang, "You know my name, not my story. You've heard what I've done, not what I've been through." Mungkin akan sedikit saya ceritakan di lain post, kalau ingat (PD banget, kayak ada yang mau baca aja xD tapi sebodo amat lah, mau ada yang baca atau enggak xD). 


Okay, see you :*

Selasa, 10 Februari 2015

Good Luck, Dear ^^

"Setiap pertemuan pasti ada perpisahan."

Kata-kata itu basi memang. Mainstream. Sering dan mudah diucapkan. Tapi, bagaimana jika kita sendiri yang merasakan hal tersebut. Berada pada posisi 'berpisah' dengan seseorang? Entah itu hanya sementara, maupun selamanya, setiap perpisahan pasti akan menyebabkan 'kekosongan'. Terasa ada yang hilang dan tidak lengkap. Terasa janggal. Apalagi jika berpisah dengan orang yang dekat dengan kita, dengan orang yang kita sayang. Mungkin akan menyebabkan kita susah untuk move on


Sama halnya dengan yang kurasakan sekarang. Ada sesuatu yang hilang ketika rekan kerja, sekaligus sahabat dan kakakku yang satu ini harus memutuskan untuk meninggalkan kami. Jujur, aku sempat kaget mendengarnya, meskipun sebenarnya aku sudah tahu rencananya dari jauh-jauh hari. Tapi, tetap saja saat mendengar berita itu ada perasaan tidak rela. 

Meskipun belum lama aku mengenalnya (kurang lebih 1 tahunan), tapi kami cepat akrab. Pernah sekali dia menginap di rumahku dan aku sering menginap di kosnya. Hehehe... Maklum saja, rumahku kan jauh dari tempat kerja. Selama kurang lebih setahun ini banyak kami lewati bersama. Dia orangnya cukup easy going dan enak diajak bercanda, apalagi kami sama-sama suka drama Korea. Wahh... Kalau sudah ngobrol soal drama Korea, orang-orang di sekeliling cuma bisa geleng-geleng kepala. Satu lagi, dia orangnya terlalu mementingkan orang lain ketimbang dirinya sendiri. Dia itu tipe orang yang loyal + royal sama teman-temannya, apalagi kalau masuk hitungan teman dekat. Terkadang sampai temannya jadi merasa tidak enak karena terlalu sering merepotkan, ya seperti aku ini. -__-' 


Meskipun aku sering merepotkan dan menyusahkan dia, tapi dia tetap care. Banyak lah pokoknya kenangan-kenangan bersama dia. Sering makan bareng, liburan bareng, karaokean bareng, dan lain lain lain lainnya.... Suatu saat pasti aku akan merindukan saat-saat seperti itu. Kalau lihat mejanya kosong itu rasanya jadi sepi. Biasanya ada yang minta difoto buat ikut giveaway, sekarang tidak ada lagi. Kalau ada 'Admin PPK' on di LAN itu rasanya pengen nge-chat. Mungkin nanti akan ada pengganti dia di tempat kerja, tapi tidak dalam hati. ^^




Semua kembali lagi pada keputusannya. Kalau itu jalan terbaik ya aku hanya bisa mendoakan dari sini semoga tetap dalam lindungan-Nya, semoga kelak menjadi orang yang sukses dan bahagia. Dan yang terpenting jangan lupa undangannya *eh



Mbak Wahyu, good luck for you ^^ 
Don't forget meeee T_T
I'll miss you T_T

nb: maap tulisanku agak lebay binti alay xD maklum saja, kan masih abege xD

bonus foto:
ciyee ciyee ciyeeeee....... sancai xD maap, nyolong dari instagram :D



Sabtu, 12 Oktober 2013

Hanya Dialog [Repost]

"Bukankah kalau seperti ini jadi tampak kau yang egois hm? Dia sudah minta maaf berkali-kali bukan?"

"Lalu kenapa kalau aku egois? Bukankah aku juga yang paling dirugikan? Well, kau taulah apa yang kumaksud 'rugi' di sini."

"Paling? Ah, kupikir tidak. Dari awal kau sudah tahu kan kalau...."

"Diam!"

"Jadi, yang PALING dirugikan atas masalah itu ya...."

"Kubilang diam!"

"Ayolah, kau juga salah. Bukankah kau bilang selalu memaafkan dan menyayangi teman-temanmu?"

"Teman? Aku tidak berteman dengannya!"

"Aishh... setidaknya kau dekat dengannya, ya... dulu maksudku."

"Sudahlah, ada topik lain?"

"Tidak, sampai kau memaafkannya dan meminta maaf pada...."

"Aku sudah memaafkannya!"

"Ck... jangan berbohong."

"Aku tak bohong, aku benar-benar sudah memaafkannya."

"Hah, kau memang payah. Dengan mata memerah seperti itu kau bilang sudah memaafkannya?"

"Ya setidaknya kami tidak sedang perang bukan?"

"Lalu?"

"Ya apa lagi? Semua sudah kembali seperti apa adanya. Seperti semula."

"Kau senang?"

"Ya... kupikir begitu."

"Tenang?"

"Apa maksud pertanyaanmu?"

"Apa kau pikir akan tenang jika kau masih menyimpan dendam pada orang lain hm?"

"Dendam? Aku tak pernah merasa dendam pada siapapun."

"Sudah kubilang kau itu payah, tidak pandai berbohong. Jadi, jujurlah, setidaknya pada dirimu sendiri."

"Ck... kau membuatku bingung!"

"Aku membuatmu bingung? Lalu kau sendiri bagaimana? Apa kaupikir aku tak bingung dengan semua ini hm?"

"Kenapa kau jadi ikutan bingung? Ini kan masalahku."

"Bodoh! kaupikir aku ini batu apa?"

"Siapa juga yang menganggapmu batu? Kenapa jadi emosi sih?"

"Kau ini... apa tidak bisa kau ubah sedikit sifat egoismu itu? Meminta maaf dan memaafkan, itu tidak akan merendahkan dirimu sama sekali. Ayolah, jangan begini."

"Sudahlah, aku capek."

"Hei, aku belum selesai bicara."

"Ya sudah, teruskan sendiri saja."

"Aish... kau ini...."

My Stupid (?) Friend [Repost]

Entahlah, sepertinya aku akan menjatuhkan harga diriku sendiri saat mulai menulis catatan ini. Ck... masa bodoh dengan itu. Aku bukan sepertimu yang selalu menjaga harga dirimu tetap tinggi, terlalu tinggi malah. Catatan ini untukmu, ya kau yang selalu berkata tajam dan membuatku kesal setiap hari. Oh, tidak... aku tidak pernah sekesal itu sebenarnya. Apa kau tau, aku ini menyayangimu. Benar-benar menyanyangimu, yah meskipun ingin sekali kuremukkan wajahmu setiap kali kau berkata tajam padaku. Namun, karena aku memang menyayangimu aku tak akan mungkin tega melakukan itu.

Well, kupikir akhir-akhir ini mood-mu sedang jelek. Ehm... meskipun memang setiap hari sepertinya mood-mu selalu jelek kalau berhadapan denganku. Tapi, akhir-akhir ini beda, mood-mu terlihat lebih jelek dari biasanya. Aku tak habis pikir, biasanya kau akan sangat cerewet dan berkata kasar padaku, tapi akhir-akhir ini kau lebih banyak diam. Ah, ini benar-benar suasana yang sangat tidak nyaman. Diammu bahkan lebih menjengkelkan ketimbang kata-kata tajammu itu.

Kau tau, aku mengkhawatirkanmu saat kau diam begini dan jangan pura-pura kau tak menyadari jika aku mengkhawatirkanmu! Kau memang dingin, tapi kau juga sangat peka. Kau selalu marah-marah dan berkata kasar padaku saat aku meminta bantuanmu, namun pada akhirnya kau membantuku juga (yah, meskipun masih dengan ngomel-ngomel tidak jelas). Itu artinya kau masih peduli padaku. Aku benar bukan? Hahaha... aku tau kau tak suka aku mengatakan hal seperti itu. Tapi itu memang kenyataan! :P

Aku masih ingat saat kau pertama kali kau tau bahwa aku beberapa kali pernah tak lulus untuk pelajaran kimia dan fisika, kau tertawa paling keras. Apalagi saat tau kalau IQ-ku jauh di bawahmu (sangat jauh malah), kau bahkan mengataiku 'bodoh' berulang-ulang. Itu mengesalkan. Ingin rasanya kutenggelamkan kau ke Laut Jawa saat itu juga. Tidak bisakah kau memilih kata-kata yang lebih halus sedikit? -__- Sungguh, itu kebiasaan yang sangat buruk. Kalau itu padaku, tak masalah, aku sudah kebal. Kalau orang lain yang menerima perkataanmu, pasti akan sangat sakit hati dan kau berkali-kali melakukannya. Ubahlah kebiasaan burukmu itu, tak baik untuk untukmu juga.

Kau selalu marah-marah saat aku mulai menasehatimu karena kata-kata kasarmu itu dan aku sangat kesal. Aku sudah melakukan hal yang benar, tapi kenapa kau malah memarahiku? Umur kita tak jauh berbeda, tapi kenapa kau selalu merasa kau jauh lebih tua dariku? Bahkan dengan sikapmu yang labil seperti itu kupikir banyak yang setuju kalau aku pantas untuk dikatakan lebih tua darimu (ehm... dewasa).

Kenapa kau memilih bersikap seperti itu? Bukankah kau ini sebenarnya orang baik (lembut maksudnya)? Kau selalu membantuku menyelesaikan tugas-tugasku dan rrrrr... sebagian TA-ku (yah, seperti yang kubilang tadi, pasti diselingi dengan omelan-omelan tidak jelas selama mengerjakannya). Sepertinya IP 3,70 itu bukan hanya milikku seorang. Hahaha... mana mungkin IQ rata-rata bawah sepertiku bisa mencapai IP setinggi itu. Kadang aku takut memikirkan apa yang dipikirkan orang lain tentangku. Mereka kira aku pintar, tapi nyatanya....

IQ-mu memang tinggi, tapi EQ-mu sepertinya jauh di bawahku mengingat sikapmu yang seperti itu. Kau cerdas, tapi bodoh (silakan mengutukiku sepuasmu setelah ini). Kau tidak pandai menjaga sikap, bahkan emosimu. Aku yakin, kau pasti sangat emosi waktu itu sampai-sampai kelepasan membalas chat 'itu' (jujur aku sangat kaget dan tak tau harus berkata apa pada'nya'). Well, masalah yang itu sepertinya sangat membuatmu kesal, tapi aku bingung kenapa kau harus kesal? Aku tau kau pasti mengutukiku habis-habisan di belakang karena kebodohanku. Ya aku memang bodoh dan tidak berpikir panjang saat itu, aku pikir semuanya akan baik-baik saja, tapi ternyata tidak. Aku menyesal, benar-benar menyesal pernah melakukannya dan aku malu. Apalagi jika mengingat komentar-komentarmu yang pedas itu. Ck... kau meremukkan harga diriku, tau!

Ayolah, kau tak boleh bersikap seperti itu terus. Katakan saja aku kejam karena mengatakan ini padamu, tapi kupikir 'dia' pergi juga karena sikapmu itu. Karena ego dan harga dirimu yang terlampau tinggi itu. Aku bahkan hampir menendang dan menginjak-injak wajahmu waktu tau 'dia' pergi, supaya kau tau bagaimana seharusnya menghargai orang. Aku tau kau masih mengharapkan'nya', tapi jangan pernah berharap 'dia' akan kembali kalau kau masih bertahan dengan sikapmu yang seperti itu. Aku benar-benar kesal padamu, kenapa kau yang cerdas itu bisa bersikap sebodoh ini? Bahkan dengan'nya' pun kau tak bisa bersikap lebih lembut. Ck... kau itu benar-benar bodoh atau apa sih? Sadarlah, kau tak bisa selamanya hidup dengan sikap seperti itu terus. Bukan hanya 'dia' yang akan pergi, tapi aku mungkin juga tak akan mau berteman denganmu lagi. Aku tau kau tak berhenti berbicara pedas padaku karena kau tau aku menyayangimu dan tak akan membencimu, tapi siapa yang tau kalau suatu saat pun aku juga akan lelah. Apa kau pernah memikirkan hal itu? Lalu, siapa lagi yang mau berteman denganmu yang seperti itu? Ubahlah sikapmu dan akan kubantu kau supaya 'dia' kembali, bagaimana? Tidak ada yang gratis tentunya! :D *kumat matrenya* Sepertinya kita memang benar-benar cocok jadi teman, aku bodoh, kau egois... hahaha bukankah kita sama-sama menyebalkan? Sudahlah, jangan sering mengataiku bodoh, aku takut itu akan berbalik padamu. Siapa lagi yang akan membantuku kalau kau benar-benar berubah jadi bodoh? Letakkan dulu ego dan harga dirimu yang terlalu tinggi itu, minta maaflah pada'nya' dan janji tak akan pernah mengulang kebodohan yang sama. Aku yakin 'dia' akan kembali. Setelah 'dia' kembali, jangan harap kau bisa berkata kasar pada'nya' atau aku sendiri yang akan menguburmu hidup-hidup. Seharusnya kau sadar siapa kau ini, tidak pantas kau berkata kasar! Ck....

Sudahlah, sepertinya aku terlalu menghabiskan waktu menulis ini hanya untuk orang kasar dan bodoh sepertimu! Lihatlah, kau bahkan terlihat jauh lebih bodoh dariku. Terserah, kau mau memakiku habis-habisan setelah ini atau bagaimana, aku tak peduli. Tapi, kupikir diammu itu akan bertahan lama, mengingat... lebih-baik-sakit-gigi-daripada-patah-hati! hahahapisssss... :D

Senin, 19 Agustus 2013

Abstrak #1

"Ke mana?"

Ajaib. Sebelumnya belum pernah kudengar kata itu keluar dari mulutnya. Apa hari ini sedang hujan badai? Kurasa tidak. Apa aku sedang berhalusinasi? Tidak mungkin!

Aku melirik ke arahnya. Masih sibuk dengan majalahnya. Apa benar itu tadi keluar dari mulutnya? Bahkan tidak sedikitpun matanya beralih dari lembar-lembar berwarna itu. 

"Apa perlu kuulang sampai dua kali?"

"Ah... ya? Mau ke musholla." Sial. Aku gelagapan.

"Ow...." 

Hanya itu? Okay, normal. Seperti biasanya. 

"Mau ikut?" 

Sesekali biar kucoba mengajaknya bergurau. Well, sebenarnya bukan sebatas 'gurauan'... if you know what I wanna talk to you....

"Jangan bercanda!"

Hmm... mungkin lain kali akan berhasil. Setidaknya kata-kata itu tidak diikuti dengan lipatan-lipatan aneh di wajahnya. Aku sejenak menahan langkahku agak lebih lama. Jarang-jarang dia bicara banyak. Sepertinya hari ini mood-nya sedang cerah.

"Kenapa? Aku tak mengajakmu ibadah, hanya mengajakmu pergi keluar." 

"Aku tidak mau. Sampaikan saja salamku pada-Nya!" 

Aku terusik dengan kata-katanya. Ingin tertawa, tapi kutahan. Aku tahu apa akibatnya kalau sampai kelepasan.

"Siapa?" Pancingku.

"Tuhan."

"Apa itu artinya kau masih percaya Tuhan? Kau kan atheis." 

"Sudahlah... pergi sana!" 

Hahaha... semoga Tuhan melindungimu. :)
 
~rdp~
29-06-2013

Oh

Hari ini panas, luar-dalam. Tak... tik... tak... tik.... Suara jam gue beda.

"Lihat, bagus kan?" Tumben, tanya duluan.

"Apanya?"

"Ya gambarnya lah...."

"Cantik."

"Apanya?"

"Ya talent-nya lah...."

"Ah, murah itu. Lima puluh ribu, bisa liat dia telanjang. Sering beli aku... sebulan sekali."

"Hah?"

"Di lapak koran... banyak!"

"Oh...."

"Kenapa kau?"

"Nggak papa...."

Hahaha... syukur, ternyata masih suka dia sama cewek. Kupikir udah nggak straight lagi. :D

~rdp~
10-05-2013

Wanita Cantik

Ibu, wanita cantik itu seperti apa?
Apakah mereka yang berkulit mulus dan putih?
Ataukah mereka yang berambut panjang dan lurus?
Atau mungkin mereka yang bersuara indah?
Mungkinkah yang berhidung mancung dan berbola mata bulat?
Ah, kalau seperti itu berarti aku bukan termasuk wanita cantik ya, Bu?

Ibu, kau selalu bilang padaku, jadilah wanita yang cantik!
Tapi, sampai sekarang aku tak mengerti, seperti apa wanita cantik itu
Bagiku, kaulah wanita paling cantik dan aku tak mungkin bisa jadi sepertimu




Ibu:
Anakku, wanita cantik itu tak hanya dalam segi fisik, tapi juga hati
Begitu juga, melihat wanita cantik bukan dengan mata telanjang, tapi dengan mata hati
Wanita cantik itu bukan mereka yang 'terlihat' berkulit putih dan mulus
Tapi, mereka yang pandai 'memelihara' keindahan kulitnya dari mata lelaki yang bukan muhrimnya
Wanita cantik itu bukan mereka yang hanya berambut panjang dan lurus
Tapi, mereka yang menyembunyikan rambutnya dengan jilbab dan mengulurkannya sampai ke dada
Wanita cantik itu bukan pula yang bersuara indah
Tapi, mereka yang mampu 'menjaga' kemerduan suaranya agar tak dinikmati oleh mereka yang tak berhak
Wanita cantik itu juga bukan hanya berhidung mancung dan berbola mata indah
Tapi, mereka yang mampu menjaga mata, telinga, tangan, kaki, mulut dan hati agar tak bersentuhan dengan kemaksiatan

Anakku, begitulah seharusnya wanita cantik
Kalau cantik hanya dilihat dari fisik, maka itu akan cepat sirna seiring usia yang bertambah
Jadikanlah cantikmu abadi, bukan hanya sesaat
Wanita cantik itu selalu berhias dengan air wudhu dan perkataan yang mulia
Bukan dengan kosmetik yang mahal
Wanita cantik itu yang meneteskan air mata karena dosa-dosanya
Bukan yang meneteskan air mata karena ditinggal sang kekasih
Wanita cantik itu mereka yang tersenyum untuk bersedekah
Bukan yang tersenyum untuk merayu
Rugilah mereka yang dianugerahi raga yang indah jika hanya menyia-nyiakannya

Anakku, janganlah kamu mendermakan tubuhmu untuk orang lain
Jangan kau umbar keindahanmu di depan mata-mata penuh nafsu
Jagalah itu semua untuk suamimu kelak
Jangan kau berikan "sisa" untuk suamimu nanti
Lelaki akan lebih senang jika mendapatkan istri yang belum pernah "dinikmati" lelaki lain.
Jika ingin mendapatkan lelaki yang baik, maka jadilah wanita yang baik pula...


~RDP~
Ngawi, 03-07-2012
 

Kau dan Pintu Itu

Kau, ya kau yang sudah berdiri tepat di depan pintu itu, perlahan-lahan mulai mengetuk pintu hatiku. Tanpa kusadari perlahan-lahan kuintip kau dari balik pintu itu. Kutatap wajahmu yang tampak semu, entah kenapa terlihat buram. Kutanya apa perlumu, dan kau menjawab ingin singgah. Aku lantas tersenyum, tapi pintu itu belum juga kubuka untukmu. Lama aku berdiri di balik pintu itu sambil mendengar celotehmu dan tanpa sadar aku terhanyut olehmu. Benar-benar gila. 

Waktu terus bergulir, kakiku sudah pegal berdiri di balik pintu itu, namun kau belum juga beranjak dari sana. Kau bilang akan terus menunggu sampai aku membukakan pintu itu untukmu. Tentu saja aku merasa sangat tersanjung. Tapi, segera kutepis itu semua. Aku sadar, jika aku membuka pintu itu kau akan terjebak di dalamnya dan tak akan pernah keluar lagi. Aku takut kau akan mati pelan-pelan karena di dalam tersimpan serigala yang sedang kelaparan. Aku takut kau tak akan kuat bertahan. Maka dari itu, aku memutuskan untuk mengunci rapat-rapat pintu itu. Dengan kasar kuusir kau agar menjauh dari situ. Namun apa? Kau tak juga beranjak. Aku putus asa, tak tahu lagi apa yang harus kuperbuat untuk menjauhkanmu dari pintu itu. Akhirnya, akulah yang harus menjauh. Sesaat terasa ada yang hilang dan segeralah sunyi datang menyergap. Tapi, aku harus bertahan meski tenggorokan serasa tercekik. 

Beberapa waktu berlalu, aku kembali. Aku kaget setengah mati ketika mendapatimu masih di depan pintu itu. Masih dengan senyum yang sama kau berdiri tanpa bergeser sedikitpun dari sana. Aku bingung, tak tahu harus berbuat apa. Apa aku harus membuka pintu itu untukmu dan membiarkan kau menghadapi serigala yang semakin kelaparan itu? Atau harus aku menjauh dan kembali bercumbu dengan kesenyapan? Ah, ini benar-benar membuat dilema. Yah, akhirnya kuputuskan untuk menjauh (lagi) meski kutahu kita akan sama-sama terluka. Tapi, setidaknya kau masih bisa hidup dan tak harus meregang nyawa di mulut serigala kelaparan itu. 
 
~RDP~
30-05-2012
 
Blogger Templates