Social Icons

Pages

Tampilkan postingan dengan label Love. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Love. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Oktober 2013

Love? [Repost]

Orang-orang bilang dia adalah psikopat. Aneh dan tak wajar. Tapi, di mataku dia beda. Unik. Bukan ku menutup mata atas semua kelakuan ganjilnya, namun aku malah melihatnya sebagai daya tarik. Sorot matanya yang tajam seakan ingin menelan hidup-hidup setiap orang yang ada di hadapannya itu telah membuatku jatuh hati. Juga cekungan di sekeliling bola matanya yang menghitam adalah pesona tersendiri. Rambut gimbal dan bibir yang pucat, itu eksotis menurutku. Aku benar-benar tak peduli ketika orang lain sudah menganggapku gila karena penilaianku itu.

"Dia psikopat, tak normal!” ucap seorang teman padaku.

“Tidak, dia hanya sedikit berbeda dari orang kebanyakan dan itulah yang membuatnya menarik. Aku suka.”

"Apa kau tak ingat Wati, Ningsih, Wulan, juga Kinan?”

“Aku ingat. Tapi aku tak percaya!” tegasku. Palu sudah kuketuk dan telah kuputuskan untuk menutup telinga rapat-rapat dari gunjingan orang yang selalu berdengung seperti tawon di telinga. Terserah orang mau menganggapku bebal atau apa. “Inilah cinta, kawan!” ucapku dalam hati.

Tanpa kuduga, dia membalas perasaanku, masih dengan sorot tajam matanya. Dia telah menabuh genderang dalam hatiku dan menghapus kidung sunyi yang telah lama bersemayam dalam jiwa. Aku bahagia, walau kutahu orang lain semakin cemas melihatku terseret lebih jauh ke dalam lingkaran hidup lelaki bermata sayu itu.

Suatu sore, lelaki itu mengajakku bertandang ke rumahnya. Dia bilang akan memperkenalkanku dengan kedua orang tuanya. Tentu saja kuterima dengan senang hati. Dengan sikapnya yang dingin, ia menggandeng tanganku menuju rumah yang sedari telah ia ceritakan. Rumah yang katanya penuh cinta. Tapi, aku tak tahu apa maksudnya.

Rumah itu, mungkin jika orang lain yang melihat akan mengira bahwa itu adalah rumah tua yang tak berpenghuni. Namun, tidak bagiku, itulah lukisan kenyamanan. Cat putih yang sudah kusam dan terkelupas sana-sini. Tumbuhan merambat yang menyelubungi tembok-tembok rumahnya. Tak ketinggalan pohon akasia dan kamboja yang berdiri gagah di depan rumah. Aku menyukainya.

Dia membawaku masuk ke dalam rumah itu. Rumah yang unik, seperti pemiliknya. Dia terus menggandengku hingga sampai ke sebuah ruangan yang berukuran cukup lebar.

“Kamarmu?” tanyaku. Dia hanya mengangguk dan meninggalkanku disana sendirian.

Kuamati sekeliling ruangan itu. Gelap dan pengap. Ia menutup semua jendela dengan gorden yang cukup tebal. Penerangan hanya berupa lampu lima watt yang sudah hampir mati. Bau tak sedap segera saja menusuk-nusuk hidungku. Ah, sepertinya aku pernah mencium bau ini, tapi dimana? Aku lupa.

Ada cermin cukup besar yang bersandar di tembok ruangan itu. Di sisi lain, berhadapan dengan cermin itu, berjejer benda dari kayu seukuran lemari, tapi tak hanya satu, ada lima. Penasaran, kudekati benda itu, kuraba dan kurasakan ada ukiran di situ. Bentuknya unik, seperti benda yang sering kulihat di toko depan rumahku.

“Ada apa?” Aku tersentak ketika mengetahui  lelaki itu sudah berada tepat di belakangku.           
"Eh, tidak. Aku hanya penasaran dengan benda ini,” kutunjuk jejeran benda yang sedari tadi menarik perhatianku itu.

“Oh, itu. Itu cinta,”

“Cinta? Apa maksudmu?” Aku mengerutkan kening. Tak mengerti apa yang dia ucapkan tadi.

"Sebentar lagi kau akan tahu.” Lagi-lagi aku mengerutkan kening. Sedetik kemudian aku baru mencerna kata-katanya saat kulihat sorot tajam matanya yang tiba-tiba berubah. Mataku beralih pada cermin besar yang dipunggunginya itu. Ah, itulah yang kusesalkan. Bola mataku menangkap benda tajam berkilauan tergenggam kuat di balik punggung lelaki itu. Otakku liar berpikir dan akhirnya aku bisa menebak apa yang kira-kira tersembunyi dalam benda yang terbuat dari kayu seperti lemari itu.

Bidadari dalam Cermin [Repost]



Malam ini rembulan begitu memesona. Bumi bersorak gembira menyambutnya. Begitupun aku, yang diam-diam menyimpan kebahagiaan yang membuncah dalam dada. Aku melihat rembulan yang seakan tersenyum padaku, mengatakan bahwa ia merestuiku. Aku mengangguk perlahan padanya, lalu buru-buru masuk ke kamar dan menemui kekasihku.

Oh, dia sudah duduk manis di sana. Malam ini dia terlihat sangat cantik. Wajahnya seterang rembulan yang saat ini bersinar dengan indahnya. Kedua matanya mampu menenggelamkanku dalam perasaan yang begitu dalam. Sedang bibirnya semerah mawar, hingga aku dapat mencium wanginya kala kudekati. Kutatap lekat wajahnya, ada gelombang dalam dada yang mampu menggoncangkan seluruh jiwaku. Aku telah terperangkap dalam dunia yang entah bernama apa. Hanya ada kami berdua, aku dan dia.

"Kau begitu cantik malam ini," bisikku perlahan. Sengaja kukecilkan suaraku agar orang rumah tak mendengar. Aku tak mau kalau sampai mereka tahu aku menyimpan bidadari dalam kamarku. 

"Ingin rasanya aku mengajakmu keluar malam ini. Kita melihat bulan yang cantik, juga merasakan semilir angin yang sejuk. Kau pasti senang," bisikku lagi. Namun, dia hanya tersenyum memandangiku. Sepertinya dia masih malu-malu, walau ini sudah malam kesekian aku menemaninya.

Aku semakin terpesona ketika wajahnya mulai memerah. Inilah kecantikan luar biasa yang pernah kulihat. Ini juga yang membuatku jatuh cinta saat pertama kali melihatnya, beberapa hari yang lalu. Selama ini aku tak percaya dengan yang namanya bidadari. Namun, saat menemukannya, barulah aku  percaya. Saat itu aku mengira dia adalah Nawang Wulan yang kehilangan selendangnya sehingga tak bisa lagi kembali ke khayangan. Aku berharap menjadi Jaka Tarub yang menemukan selendang dan memperistrinya, tapi aku tak ingin jika kelak ia menemukan selendangnya dia akan meninggalkanku dan kembali ke asalnya. Aku tak ingin itu semua terjadi. Jadi, jika benar dia Nawang Wulan, akan kucari selendangnya sampai ketemu, lalu kubakar selendang itu hingga ia tak bisa lagi kembali. Ah, pikiran jahat itu muncul begitu saja, mungkin aku yang terlalu mencintainya hingga tak ingin dia terlepas begitu saja.

Aku, lelaki yang tak pernah mengenal cinta tiba-tiba saja tunduk pada perempuan yang kini berada tepat di hadapanku dengan senyumnya yang menawan. Entah racun apa yang sudah dia masukkan ke dalam makananku sehingga aku begitu tergila-gila padanya. Atau jangan-jangan dia memakai semacam pelet yang mampu membuat orang yang memandangnya menjadi jatuh cinta. Aku sering melihat hal seperti itu di film-film. Apapun yang dia lakukan, aku tak peduli. Aku tetap mencintainya.

"Sayang, malam ini sangat romantis. Aku tak ingin malam ini segera berakhir. Aku masih ingin memandangmu. Apa kau tak keberatan menemaniku sampai esok pagi?" Tanyaku penuh harap.

Dia mengangguk. Aku melonjak girang. Meski tanpa sepatah katapun itu cukup membuatku terbang. Aku begitu bahagia malam ini. Rembulan pun mendukung dengan cahayanya yang mampu menembus jendela kamarku. Aku terus memandanginya. Wajahnya begitu teduh dan menyejukkan. Benar-benar layak jika kupanggil dia bidadari. Ya, bidadari yang sengaja langit turunkan untuk menemaniku.

“Sepertinya tak hanya malam ini saja. Apa besok kau juga mau menemaniku sampai pagi lagi?” Dia berhenti tersenyum. Raut wajahnya berubah seketika. Matanya menatap sayu padaku.

“Kenapa? Apa kau tak mau menemaniku?” Kecewa tersirat dalam setiap tanyaku.

“Oh, ya mungkin kau lelah menemaniku setiap hari ya? Tak apalah, kapan saja kau datang aku akan menunggumu di sini,” kataku sembari tersenyum, berharap ia juga kembali tersenyum seperti semula. Aku sungguh tak rela kehilangan senyum itu malam ini. Senyum yang mampu meruntuhkan setiap gunung egoku, memadamkan setiap kobaran amarahku.

***
Mataku mengerjap-ngerjap, silau oleh cahaya matahari yang melewati jendela yang semalam lupa kututup.

“Sial, lagi-lagi aku ketiduran,” rutukku. Kutegakkan posisi dudukku.

“Ah, dia sudah pergi. Padahal semalam aku yang menyuruhnya menemaniku sampai pagi.” Aku sedikit kesal.

Aku buru-buru menuju kamar mandi dan bersiap-siap. Hari ini ada kuliah pagi dan mungkin akan pulang agak larut lagi. Memang hari-hari yang sangat melelahkan. Andai saja tak ada bidadari itu, mungkin aku sudah depresi. Sebelum melangkah keluar kamar kusempatkan melirik tempat bertemu bidadariku semalam. “Apa malam ini kau akan datang lagi?” Batinku. Perlahan kututup pintu kamar, ada sedikit ketidakrelaan meninggalkan kamar.

“Bagaimana kalau siang ini dia datang lagi? Bagaimana kalau dia tak menemukanku di sana?” tanyaku dalam hati. Sedetik kemudian pikiranku tegas membantah, “Ah, tak mungkin. Dia hanya akan datang malam hari.” Aku berjalan santai ke kampus sembari berharap malam segera menjelang, agar aku bisa lekas menemui bidadariku lagi.

***
Senja memerah di ufuk barat. Aku menyiapkan secangkir kopi dan sebatang rokok yang telah mengepul dintara telunjuk dan jari tengah. Aku menunggu rembulan kembali muncul membawa bidadari ke hadapanku malam ini. Rasanya tak sabar ingin membagi cerita sepanjang hari ini padanya. Pasti ia akan tersenyum, bahkan tertawa senang mendengarnya.

Langit mulai gelap. Samar sinar rembulan tampak pucat. Belum juga ada tanda-tanda bidadariku itu datang. Memang aku yang terlalu awal menunggunya, biasanya ia akan datang jika langit telah benar-benar gelap. Lama aku menunggu, satu jam, dua jam, hampir tiga jam bidadariku belum tampak juga. Padahal mataku sudah semakin berat. Akhirnya aku terlelap sebelum sempat kulihat bidadari itu menyapaku.

Pukul dua belas malam, aku terkesiap. Tiba-tiba saja terbangun dari tidurku. Aku mendongakkan kepala, kudapati seulas senyum manis di hadapanku. Langsung kutegakkan posisi dudukku.

“Maaf, aku ketiduran,” kusapa dia dengan malu-malu. Seperti biasa, dia hanya terseyum memandangku. Seperti biasa pula aku cukup senang dengan reaksinya itu.

“Apa kau tadi lama menungguku?” Tanyaku. Aku merasa tak enak membiarkannya menunggu. Namun, dia hanya menggelengkan kepalanya –masih dengan senyum.

“Syukurlah, aku kira kau tak akan datang malam ini ....” Aku senang menemuinya kembali malam ini. Malam ini sungguh indah, kulewati dengan bidadari cantik di hadapanku. Berbagai cerita tentang hari-hariku mengalir begitu saja, hingga tak kusadari mata sayu itu kembali menghiasi wajah sang bidadari.

“Kamu kenapa lagi? Apa ceritaku membosankan?” Tanyaku penuh khawatir. Dia menggeleng perlahan.

“Lalu kenapa raut wajahmu tiba-tiba begitu berubah?” Dia hanya terdiam menatapku dengan matanya yang berkaca-kaca. Ada sirat kesedihan yang begitu mendalam terpancar dari matanya, namun bibirnya tetap terkatup rapat. Aku tak bisa memahami dirinya saat ini.

Kami hanya terdiam selama beberapa jam menjelang pagi. Aku terus memandanginya, berharap kali ini mau mengecapkan satu kata padaku. Namun sayang, ia tetap pada dirinya, diam seribu bahasa. Aku putus asa sampai rasa kantuk menyerangku. Tak sadar lagi-lagi aku tertidur di hadapannya.

Pukul tujuh pagi, jiwaku kembali pada tempatnya setelah melalangbuana di alam mimpi. Seperti biasa, tak lagi kudapati bidadari itu di hadapanku. Bibirku tak henti-hentinya memaki diri sendiri sebelum akhirnya kuputuskan untuk bersiap-siap dan berangkat ke kampus.

***
Ini malam kesekian aku menunggunya di kamar, tapi kali ini tanpa sinar rembulan. Cahaya redup lampu kamar tak bisa menggantikan indahnya pancaran rembulan. Dua gelas kopi dan beberapa batang rokok telah kandas, meski waktu belum menunjukkan tengah malam. Aku duduk di tempat biasa, resah menunggu datangnya bidadariku. Entah kenapa firasatku kali ini tak enak, seperti ada sesuatu yang hilang. Entah apa itu.

Malam semakin pekat, kulirik jam weker di meja, tengah malam baru saja berlalu. Ini membuat perasaanku semakin tak enak. Bidadari yang kunanti tak kunjung muncul. Seksama kuperhatikan benda di depanku dan di sanalah tak sengaja kutemukan sesuatu. Bagai tersengat listrik beribu-ribu volt, tubuhku gemetar tak karuan. Segera aku beranjak dari tempat dudukku, berlari sambil berteriak histeris.

“Ibu ... Ibu ....” Aku berlari menuju kamar Ibu. Kugedor-gedor pintu kamarnya. Aku tak peduli meski ini tengah malam sekalipun.

“Ibu ... buka Ibu ....” Aku masih histeris di depan kamar Ibu. Tak lama pintu kamar Ibu tergesa-gesa dibuka. Tersembul wajah kusut Ibu yang masih terkantuk.

“Ada apa kamu tengah malam begini teriak-teriak?”

“Ibu, apa yang Ibu lakukan pada cermin di kamarku?” Aku menggoncang-goncang bahu Ibu.

“Oh, itu. Tadi siang sewaktu membersihkan kamarmu tak sengaja Ibu memecahkannya. Cermin itu hancur berkeping-keping, lalu ibu ganti dengan yang baru,” kata Ibu santai.

Aku langsung terduduk lemas. Syaraf-syarafku seakan lumpuh. Tak kupedulikan lagi air mata yang kini membanjir di pipi. Sekarang, tak akan pernah lagi kutemukan bidadari itu di kamarku. Ibu baru saja membunuh bidadariku.  

-rdp-
22/10/2012

Hanya Dialog [Repost]

"Bukankah kalau seperti ini jadi tampak kau yang egois hm? Dia sudah minta maaf berkali-kali bukan?"

"Lalu kenapa kalau aku egois? Bukankah aku juga yang paling dirugikan? Well, kau taulah apa yang kumaksud 'rugi' di sini."

"Paling? Ah, kupikir tidak. Dari awal kau sudah tahu kan kalau...."

"Diam!"

"Jadi, yang PALING dirugikan atas masalah itu ya...."

"Kubilang diam!"

"Ayolah, kau juga salah. Bukankah kau bilang selalu memaafkan dan menyayangi teman-temanmu?"

"Teman? Aku tidak berteman dengannya!"

"Aishh... setidaknya kau dekat dengannya, ya... dulu maksudku."

"Sudahlah, ada topik lain?"

"Tidak, sampai kau memaafkannya dan meminta maaf pada...."

"Aku sudah memaafkannya!"

"Ck... jangan berbohong."

"Aku tak bohong, aku benar-benar sudah memaafkannya."

"Hah, kau memang payah. Dengan mata memerah seperti itu kau bilang sudah memaafkannya?"

"Ya setidaknya kami tidak sedang perang bukan?"

"Lalu?"

"Ya apa lagi? Semua sudah kembali seperti apa adanya. Seperti semula."

"Kau senang?"

"Ya... kupikir begitu."

"Tenang?"

"Apa maksud pertanyaanmu?"

"Apa kau pikir akan tenang jika kau masih menyimpan dendam pada orang lain hm?"

"Dendam? Aku tak pernah merasa dendam pada siapapun."

"Sudah kubilang kau itu payah, tidak pandai berbohong. Jadi, jujurlah, setidaknya pada dirimu sendiri."

"Ck... kau membuatku bingung!"

"Aku membuatmu bingung? Lalu kau sendiri bagaimana? Apa kaupikir aku tak bingung dengan semua ini hm?"

"Kenapa kau jadi ikutan bingung? Ini kan masalahku."

"Bodoh! kaupikir aku ini batu apa?"

"Siapa juga yang menganggapmu batu? Kenapa jadi emosi sih?"

"Kau ini... apa tidak bisa kau ubah sedikit sifat egoismu itu? Meminta maaf dan memaafkan, itu tidak akan merendahkan dirimu sama sekali. Ayolah, jangan begini."

"Sudahlah, aku capek."

"Hei, aku belum selesai bicara."

"Ya sudah, teruskan sendiri saja."

"Aish... kau ini...."

My Stupid (?) Friend [Repost]

Entahlah, sepertinya aku akan menjatuhkan harga diriku sendiri saat mulai menulis catatan ini. Ck... masa bodoh dengan itu. Aku bukan sepertimu yang selalu menjaga harga dirimu tetap tinggi, terlalu tinggi malah. Catatan ini untukmu, ya kau yang selalu berkata tajam dan membuatku kesal setiap hari. Oh, tidak... aku tidak pernah sekesal itu sebenarnya. Apa kau tau, aku ini menyayangimu. Benar-benar menyanyangimu, yah meskipun ingin sekali kuremukkan wajahmu setiap kali kau berkata tajam padaku. Namun, karena aku memang menyayangimu aku tak akan mungkin tega melakukan itu.

Well, kupikir akhir-akhir ini mood-mu sedang jelek. Ehm... meskipun memang setiap hari sepertinya mood-mu selalu jelek kalau berhadapan denganku. Tapi, akhir-akhir ini beda, mood-mu terlihat lebih jelek dari biasanya. Aku tak habis pikir, biasanya kau akan sangat cerewet dan berkata kasar padaku, tapi akhir-akhir ini kau lebih banyak diam. Ah, ini benar-benar suasana yang sangat tidak nyaman. Diammu bahkan lebih menjengkelkan ketimbang kata-kata tajammu itu.

Kau tau, aku mengkhawatirkanmu saat kau diam begini dan jangan pura-pura kau tak menyadari jika aku mengkhawatirkanmu! Kau memang dingin, tapi kau juga sangat peka. Kau selalu marah-marah dan berkata kasar padaku saat aku meminta bantuanmu, namun pada akhirnya kau membantuku juga (yah, meskipun masih dengan ngomel-ngomel tidak jelas). Itu artinya kau masih peduli padaku. Aku benar bukan? Hahaha... aku tau kau tak suka aku mengatakan hal seperti itu. Tapi itu memang kenyataan! :P

Aku masih ingat saat kau pertama kali kau tau bahwa aku beberapa kali pernah tak lulus untuk pelajaran kimia dan fisika, kau tertawa paling keras. Apalagi saat tau kalau IQ-ku jauh di bawahmu (sangat jauh malah), kau bahkan mengataiku 'bodoh' berulang-ulang. Itu mengesalkan. Ingin rasanya kutenggelamkan kau ke Laut Jawa saat itu juga. Tidak bisakah kau memilih kata-kata yang lebih halus sedikit? -__- Sungguh, itu kebiasaan yang sangat buruk. Kalau itu padaku, tak masalah, aku sudah kebal. Kalau orang lain yang menerima perkataanmu, pasti akan sangat sakit hati dan kau berkali-kali melakukannya. Ubahlah kebiasaan burukmu itu, tak baik untuk untukmu juga.

Kau selalu marah-marah saat aku mulai menasehatimu karena kata-kata kasarmu itu dan aku sangat kesal. Aku sudah melakukan hal yang benar, tapi kenapa kau malah memarahiku? Umur kita tak jauh berbeda, tapi kenapa kau selalu merasa kau jauh lebih tua dariku? Bahkan dengan sikapmu yang labil seperti itu kupikir banyak yang setuju kalau aku pantas untuk dikatakan lebih tua darimu (ehm... dewasa).

Kenapa kau memilih bersikap seperti itu? Bukankah kau ini sebenarnya orang baik (lembut maksudnya)? Kau selalu membantuku menyelesaikan tugas-tugasku dan rrrrr... sebagian TA-ku (yah, seperti yang kubilang tadi, pasti diselingi dengan omelan-omelan tidak jelas selama mengerjakannya). Sepertinya IP 3,70 itu bukan hanya milikku seorang. Hahaha... mana mungkin IQ rata-rata bawah sepertiku bisa mencapai IP setinggi itu. Kadang aku takut memikirkan apa yang dipikirkan orang lain tentangku. Mereka kira aku pintar, tapi nyatanya....

IQ-mu memang tinggi, tapi EQ-mu sepertinya jauh di bawahku mengingat sikapmu yang seperti itu. Kau cerdas, tapi bodoh (silakan mengutukiku sepuasmu setelah ini). Kau tidak pandai menjaga sikap, bahkan emosimu. Aku yakin, kau pasti sangat emosi waktu itu sampai-sampai kelepasan membalas chat 'itu' (jujur aku sangat kaget dan tak tau harus berkata apa pada'nya'). Well, masalah yang itu sepertinya sangat membuatmu kesal, tapi aku bingung kenapa kau harus kesal? Aku tau kau pasti mengutukiku habis-habisan di belakang karena kebodohanku. Ya aku memang bodoh dan tidak berpikir panjang saat itu, aku pikir semuanya akan baik-baik saja, tapi ternyata tidak. Aku menyesal, benar-benar menyesal pernah melakukannya dan aku malu. Apalagi jika mengingat komentar-komentarmu yang pedas itu. Ck... kau meremukkan harga diriku, tau!

Ayolah, kau tak boleh bersikap seperti itu terus. Katakan saja aku kejam karena mengatakan ini padamu, tapi kupikir 'dia' pergi juga karena sikapmu itu. Karena ego dan harga dirimu yang terlampau tinggi itu. Aku bahkan hampir menendang dan menginjak-injak wajahmu waktu tau 'dia' pergi, supaya kau tau bagaimana seharusnya menghargai orang. Aku tau kau masih mengharapkan'nya', tapi jangan pernah berharap 'dia' akan kembali kalau kau masih bertahan dengan sikapmu yang seperti itu. Aku benar-benar kesal padamu, kenapa kau yang cerdas itu bisa bersikap sebodoh ini? Bahkan dengan'nya' pun kau tak bisa bersikap lebih lembut. Ck... kau itu benar-benar bodoh atau apa sih? Sadarlah, kau tak bisa selamanya hidup dengan sikap seperti itu terus. Bukan hanya 'dia' yang akan pergi, tapi aku mungkin juga tak akan mau berteman denganmu lagi. Aku tau kau tak berhenti berbicara pedas padaku karena kau tau aku menyayangimu dan tak akan membencimu, tapi siapa yang tau kalau suatu saat pun aku juga akan lelah. Apa kau pernah memikirkan hal itu? Lalu, siapa lagi yang mau berteman denganmu yang seperti itu? Ubahlah sikapmu dan akan kubantu kau supaya 'dia' kembali, bagaimana? Tidak ada yang gratis tentunya! :D *kumat matrenya* Sepertinya kita memang benar-benar cocok jadi teman, aku bodoh, kau egois... hahaha bukankah kita sama-sama menyebalkan? Sudahlah, jangan sering mengataiku bodoh, aku takut itu akan berbalik padamu. Siapa lagi yang akan membantuku kalau kau benar-benar berubah jadi bodoh? Letakkan dulu ego dan harga dirimu yang terlalu tinggi itu, minta maaflah pada'nya' dan janji tak akan pernah mengulang kebodohan yang sama. Aku yakin 'dia' akan kembali. Setelah 'dia' kembali, jangan harap kau bisa berkata kasar pada'nya' atau aku sendiri yang akan menguburmu hidup-hidup. Seharusnya kau sadar siapa kau ini, tidak pantas kau berkata kasar! Ck....

Sudahlah, sepertinya aku terlalu menghabiskan waktu menulis ini hanya untuk orang kasar dan bodoh sepertimu! Lihatlah, kau bahkan terlihat jauh lebih bodoh dariku. Terserah, kau mau memakiku habis-habisan setelah ini atau bagaimana, aku tak peduli. Tapi, kupikir diammu itu akan bertahan lama, mengingat... lebih-baik-sakit-gigi-daripada-patah-hati! hahahapisssss... :D
 
Blogger Templates