Social Icons

Pages

Tampilkan postingan dengan label Friends. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Friends. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Februari 2015

Good Luck, Dear ^^

"Setiap pertemuan pasti ada perpisahan."

Kata-kata itu basi memang. Mainstream. Sering dan mudah diucapkan. Tapi, bagaimana jika kita sendiri yang merasakan hal tersebut. Berada pada posisi 'berpisah' dengan seseorang? Entah itu hanya sementara, maupun selamanya, setiap perpisahan pasti akan menyebabkan 'kekosongan'. Terasa ada yang hilang dan tidak lengkap. Terasa janggal. Apalagi jika berpisah dengan orang yang dekat dengan kita, dengan orang yang kita sayang. Mungkin akan menyebabkan kita susah untuk move on


Sama halnya dengan yang kurasakan sekarang. Ada sesuatu yang hilang ketika rekan kerja, sekaligus sahabat dan kakakku yang satu ini harus memutuskan untuk meninggalkan kami. Jujur, aku sempat kaget mendengarnya, meskipun sebenarnya aku sudah tahu rencananya dari jauh-jauh hari. Tapi, tetap saja saat mendengar berita itu ada perasaan tidak rela. 

Meskipun belum lama aku mengenalnya (kurang lebih 1 tahunan), tapi kami cepat akrab. Pernah sekali dia menginap di rumahku dan aku sering menginap di kosnya. Hehehe... Maklum saja, rumahku kan jauh dari tempat kerja. Selama kurang lebih setahun ini banyak kami lewati bersama. Dia orangnya cukup easy going dan enak diajak bercanda, apalagi kami sama-sama suka drama Korea. Wahh... Kalau sudah ngobrol soal drama Korea, orang-orang di sekeliling cuma bisa geleng-geleng kepala. Satu lagi, dia orangnya terlalu mementingkan orang lain ketimbang dirinya sendiri. Dia itu tipe orang yang loyal + royal sama teman-temannya, apalagi kalau masuk hitungan teman dekat. Terkadang sampai temannya jadi merasa tidak enak karena terlalu sering merepotkan, ya seperti aku ini. -__-' 


Meskipun aku sering merepotkan dan menyusahkan dia, tapi dia tetap care. Banyak lah pokoknya kenangan-kenangan bersama dia. Sering makan bareng, liburan bareng, karaokean bareng, dan lain lain lain lainnya.... Suatu saat pasti aku akan merindukan saat-saat seperti itu. Kalau lihat mejanya kosong itu rasanya jadi sepi. Biasanya ada yang minta difoto buat ikut giveaway, sekarang tidak ada lagi. Kalau ada 'Admin PPK' on di LAN itu rasanya pengen nge-chat. Mungkin nanti akan ada pengganti dia di tempat kerja, tapi tidak dalam hati. ^^




Semua kembali lagi pada keputusannya. Kalau itu jalan terbaik ya aku hanya bisa mendoakan dari sini semoga tetap dalam lindungan-Nya, semoga kelak menjadi orang yang sukses dan bahagia. Dan yang terpenting jangan lupa undangannya *eh



Mbak Wahyu, good luck for you ^^ 
Don't forget meeee T_T
I'll miss you T_T

nb: maap tulisanku agak lebay binti alay xD maklum saja, kan masih abege xD

bonus foto:
ciyee ciyee ciyeeeee....... sancai xD maap, nyolong dari instagram :D



Jumat, 01 November 2013

Second Letter


Selamat pagi, Kawan :)

Ada yang berbeda hari ini. Bukankah begitu, hm? Kuharap kau sedang berbahagia di sana. Apa kau ingat, setahun lalu aku pernah menitipkan sesuatu untukmu lewat blog? Ya ya ya, kupikir hari ini aku akan melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya, karena hanya ini yang bisa kulakukan di hari bahagiamu.

Kawan, detik demi detik telah berlalu. Tak terasa sudah 22 tahun kau menapaki pahit-manisnya kehidupan. senang dan sedih, tertawa dan menangis. Kau telah mengecap berbagai rasa kehidupan. Kuharap selama 22 tahun ini kau selalu belajar dari tiap rasa yang kaucecap. Tak peduli itu pahit, manis, asam, maupun asin. Ada pelajaran di balik semua rasa itu, yang akan membuatmu menjadi sosok yang lebih baik.

Kawan, Apa yang kauharapkan di tahun ke-21 kemarin? Apa sampai di 22 ini semua telah kaudapat? Kuharap aku mendengar kabar baik. Memang terkadang apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan apa yang kita dapatkan, itu adalah hal biasa. Kita -manusia- hanya bisa berharap dan berusaha, selanjutnya adalah hak mutlak Tuhan. Meski ada sesuatu yang hingga saat ini belum bisa kaudapatkan, yakinlah bahwa Tuhan telah menyiapkan sesuatu yang lebi istimewa. Bukankah Tuhan itu lebi mengetahui segala yang terbaik untuk makhluk-Nya. Jangan pernah berhenti untuk bermimpi dan berusaha.

Kawan, selamat atas bertambahnya usiamu. Semoga Tuhan selalu melindungi dan melimpahkan kasih sayang untukmu. Kuharap setiap kali kau membuka mata selalu ada ukiran senyum di wajahmu untuk menyambut hari baru.

Kawan, meski terpisah ratusan kilometer, tapi doaku selalu menyertaimu. Aku selalu menyayangimu, hari-hari kemarin hingga detik ini dan kuharap untuk hari-hari selanjutnya.

Sekali lagi,

Selamat ulang tahun
Saeng-il chuk-ha ham-ni-da
Otanjoubi omedetou gozaimasu
Eid milaad saeed
Qu ni sheng er kuai le
Joyeux anniversaire
Fortuna dies natalis
Happy birthday,

My beloved friend :)


~02 November 2013~

Sabtu, 12 Oktober 2013

Hanya Dialog [Repost]

"Bukankah kalau seperti ini jadi tampak kau yang egois hm? Dia sudah minta maaf berkali-kali bukan?"

"Lalu kenapa kalau aku egois? Bukankah aku juga yang paling dirugikan? Well, kau taulah apa yang kumaksud 'rugi' di sini."

"Paling? Ah, kupikir tidak. Dari awal kau sudah tahu kan kalau...."

"Diam!"

"Jadi, yang PALING dirugikan atas masalah itu ya...."

"Kubilang diam!"

"Ayolah, kau juga salah. Bukankah kau bilang selalu memaafkan dan menyayangi teman-temanmu?"

"Teman? Aku tidak berteman dengannya!"

"Aishh... setidaknya kau dekat dengannya, ya... dulu maksudku."

"Sudahlah, ada topik lain?"

"Tidak, sampai kau memaafkannya dan meminta maaf pada...."

"Aku sudah memaafkannya!"

"Ck... jangan berbohong."

"Aku tak bohong, aku benar-benar sudah memaafkannya."

"Hah, kau memang payah. Dengan mata memerah seperti itu kau bilang sudah memaafkannya?"

"Ya setidaknya kami tidak sedang perang bukan?"

"Lalu?"

"Ya apa lagi? Semua sudah kembali seperti apa adanya. Seperti semula."

"Kau senang?"

"Ya... kupikir begitu."

"Tenang?"

"Apa maksud pertanyaanmu?"

"Apa kau pikir akan tenang jika kau masih menyimpan dendam pada orang lain hm?"

"Dendam? Aku tak pernah merasa dendam pada siapapun."

"Sudah kubilang kau itu payah, tidak pandai berbohong. Jadi, jujurlah, setidaknya pada dirimu sendiri."

"Ck... kau membuatku bingung!"

"Aku membuatmu bingung? Lalu kau sendiri bagaimana? Apa kaupikir aku tak bingung dengan semua ini hm?"

"Kenapa kau jadi ikutan bingung? Ini kan masalahku."

"Bodoh! kaupikir aku ini batu apa?"

"Siapa juga yang menganggapmu batu? Kenapa jadi emosi sih?"

"Kau ini... apa tidak bisa kau ubah sedikit sifat egoismu itu? Meminta maaf dan memaafkan, itu tidak akan merendahkan dirimu sama sekali. Ayolah, jangan begini."

"Sudahlah, aku capek."

"Hei, aku belum selesai bicara."

"Ya sudah, teruskan sendiri saja."

"Aish... kau ini...."

My Stupid (?) Friend [Repost]

Entahlah, sepertinya aku akan menjatuhkan harga diriku sendiri saat mulai menulis catatan ini. Ck... masa bodoh dengan itu. Aku bukan sepertimu yang selalu menjaga harga dirimu tetap tinggi, terlalu tinggi malah. Catatan ini untukmu, ya kau yang selalu berkata tajam dan membuatku kesal setiap hari. Oh, tidak... aku tidak pernah sekesal itu sebenarnya. Apa kau tau, aku ini menyayangimu. Benar-benar menyanyangimu, yah meskipun ingin sekali kuremukkan wajahmu setiap kali kau berkata tajam padaku. Namun, karena aku memang menyayangimu aku tak akan mungkin tega melakukan itu.

Well, kupikir akhir-akhir ini mood-mu sedang jelek. Ehm... meskipun memang setiap hari sepertinya mood-mu selalu jelek kalau berhadapan denganku. Tapi, akhir-akhir ini beda, mood-mu terlihat lebih jelek dari biasanya. Aku tak habis pikir, biasanya kau akan sangat cerewet dan berkata kasar padaku, tapi akhir-akhir ini kau lebih banyak diam. Ah, ini benar-benar suasana yang sangat tidak nyaman. Diammu bahkan lebih menjengkelkan ketimbang kata-kata tajammu itu.

Kau tau, aku mengkhawatirkanmu saat kau diam begini dan jangan pura-pura kau tak menyadari jika aku mengkhawatirkanmu! Kau memang dingin, tapi kau juga sangat peka. Kau selalu marah-marah dan berkata kasar padaku saat aku meminta bantuanmu, namun pada akhirnya kau membantuku juga (yah, meskipun masih dengan ngomel-ngomel tidak jelas). Itu artinya kau masih peduli padaku. Aku benar bukan? Hahaha... aku tau kau tak suka aku mengatakan hal seperti itu. Tapi itu memang kenyataan! :P

Aku masih ingat saat kau pertama kali kau tau bahwa aku beberapa kali pernah tak lulus untuk pelajaran kimia dan fisika, kau tertawa paling keras. Apalagi saat tau kalau IQ-ku jauh di bawahmu (sangat jauh malah), kau bahkan mengataiku 'bodoh' berulang-ulang. Itu mengesalkan. Ingin rasanya kutenggelamkan kau ke Laut Jawa saat itu juga. Tidak bisakah kau memilih kata-kata yang lebih halus sedikit? -__- Sungguh, itu kebiasaan yang sangat buruk. Kalau itu padaku, tak masalah, aku sudah kebal. Kalau orang lain yang menerima perkataanmu, pasti akan sangat sakit hati dan kau berkali-kali melakukannya. Ubahlah kebiasaan burukmu itu, tak baik untuk untukmu juga.

Kau selalu marah-marah saat aku mulai menasehatimu karena kata-kata kasarmu itu dan aku sangat kesal. Aku sudah melakukan hal yang benar, tapi kenapa kau malah memarahiku? Umur kita tak jauh berbeda, tapi kenapa kau selalu merasa kau jauh lebih tua dariku? Bahkan dengan sikapmu yang labil seperti itu kupikir banyak yang setuju kalau aku pantas untuk dikatakan lebih tua darimu (ehm... dewasa).

Kenapa kau memilih bersikap seperti itu? Bukankah kau ini sebenarnya orang baik (lembut maksudnya)? Kau selalu membantuku menyelesaikan tugas-tugasku dan rrrrr... sebagian TA-ku (yah, seperti yang kubilang tadi, pasti diselingi dengan omelan-omelan tidak jelas selama mengerjakannya). Sepertinya IP 3,70 itu bukan hanya milikku seorang. Hahaha... mana mungkin IQ rata-rata bawah sepertiku bisa mencapai IP setinggi itu. Kadang aku takut memikirkan apa yang dipikirkan orang lain tentangku. Mereka kira aku pintar, tapi nyatanya....

IQ-mu memang tinggi, tapi EQ-mu sepertinya jauh di bawahku mengingat sikapmu yang seperti itu. Kau cerdas, tapi bodoh (silakan mengutukiku sepuasmu setelah ini). Kau tidak pandai menjaga sikap, bahkan emosimu. Aku yakin, kau pasti sangat emosi waktu itu sampai-sampai kelepasan membalas chat 'itu' (jujur aku sangat kaget dan tak tau harus berkata apa pada'nya'). Well, masalah yang itu sepertinya sangat membuatmu kesal, tapi aku bingung kenapa kau harus kesal? Aku tau kau pasti mengutukiku habis-habisan di belakang karena kebodohanku. Ya aku memang bodoh dan tidak berpikir panjang saat itu, aku pikir semuanya akan baik-baik saja, tapi ternyata tidak. Aku menyesal, benar-benar menyesal pernah melakukannya dan aku malu. Apalagi jika mengingat komentar-komentarmu yang pedas itu. Ck... kau meremukkan harga diriku, tau!

Ayolah, kau tak boleh bersikap seperti itu terus. Katakan saja aku kejam karena mengatakan ini padamu, tapi kupikir 'dia' pergi juga karena sikapmu itu. Karena ego dan harga dirimu yang terlampau tinggi itu. Aku bahkan hampir menendang dan menginjak-injak wajahmu waktu tau 'dia' pergi, supaya kau tau bagaimana seharusnya menghargai orang. Aku tau kau masih mengharapkan'nya', tapi jangan pernah berharap 'dia' akan kembali kalau kau masih bertahan dengan sikapmu yang seperti itu. Aku benar-benar kesal padamu, kenapa kau yang cerdas itu bisa bersikap sebodoh ini? Bahkan dengan'nya' pun kau tak bisa bersikap lebih lembut. Ck... kau itu benar-benar bodoh atau apa sih? Sadarlah, kau tak bisa selamanya hidup dengan sikap seperti itu terus. Bukan hanya 'dia' yang akan pergi, tapi aku mungkin juga tak akan mau berteman denganmu lagi. Aku tau kau tak berhenti berbicara pedas padaku karena kau tau aku menyayangimu dan tak akan membencimu, tapi siapa yang tau kalau suatu saat pun aku juga akan lelah. Apa kau pernah memikirkan hal itu? Lalu, siapa lagi yang mau berteman denganmu yang seperti itu? Ubahlah sikapmu dan akan kubantu kau supaya 'dia' kembali, bagaimana? Tidak ada yang gratis tentunya! :D *kumat matrenya* Sepertinya kita memang benar-benar cocok jadi teman, aku bodoh, kau egois... hahaha bukankah kita sama-sama menyebalkan? Sudahlah, jangan sering mengataiku bodoh, aku takut itu akan berbalik padamu. Siapa lagi yang akan membantuku kalau kau benar-benar berubah jadi bodoh? Letakkan dulu ego dan harga dirimu yang terlalu tinggi itu, minta maaflah pada'nya' dan janji tak akan pernah mengulang kebodohan yang sama. Aku yakin 'dia' akan kembali. Setelah 'dia' kembali, jangan harap kau bisa berkata kasar pada'nya' atau aku sendiri yang akan menguburmu hidup-hidup. Seharusnya kau sadar siapa kau ini, tidak pantas kau berkata kasar! Ck....

Sudahlah, sepertinya aku terlalu menghabiskan waktu menulis ini hanya untuk orang kasar dan bodoh sepertimu! Lihatlah, kau bahkan terlihat jauh lebih bodoh dariku. Terserah, kau mau memakiku habis-habisan setelah ini atau bagaimana, aku tak peduli. Tapi, kupikir diammu itu akan bertahan lama, mengingat... lebih-baik-sakit-gigi-daripada-patah-hati! hahahapisssss... :D

Minggu, 19 Mei 2013

About "TA" (1)

pict: google

Besok itu Senin, rencananya gue mau bimbingan. Hari Rabu kemarin mau bimbingan, tapi batal gara-gara dosbing gue masih repot. 

"Ta, tolong SMS ke dobing, besok beliau repot apa nggak." Gue minta tolong ke Nita (temen gue) buat SMS ke dobing. Jujur, gue sungkan SMS sendiri. 

"Gimana SMS-nya? Gue takut." Jiahhh... ternyata sama aja.

"Tanya aja, besok beliau repot apa tidak, solanya kita mau bimbingan besok."

"Kalimatnya gimana?" Duh, Nita... Masa iya gue suruh ngetikin gimana SMS-nya? Tau gitu gue sendiri aja yang SMS.

"Selamat malam, Pak. Besok Bapak ada waktu apa tidak? Saya dan teman-teman mau bimbingan." Gue akhirnya ngetikin juga tuh SMS yang bakal dikirim ke dosbing. 

"Bimbingan harinya Rabu sama Kami ya.... mulai jam 10," balas dosbing gue. 

Yap, begitulah... Jadi mahasiswa tingkat akhir itu emang harus banyak sabar, legowo. Apalagi kalau sudah di-PHP-in sama dosbing. Janjinya mau datang, tapi pas ditunggu malah nggak datang. Untung tadi gue nyuruh temen gue SMS ke dosbing dulu. Kalau enggak, rugi gue besok jauh-jauh datang ke kampus, tapi dosbing malah nggak ngampus. 

Btw, TA gue udah mau masuk Bab IV. Doain ya semua lancar dan gue bisa lulus tepat waktu. Aamiin....

Rabu, 08 Mei 2013

Book Stores

pict: google
 Aaarrgghhh... Hari ini gue capek banget. Gimana enggak, seharian gue sama temen-temen muter-muter dari satu toko buku ke toko buku lainnya, cuma buat nyari referensi. Enggak cuma capek, tapi kesel juga. Bayangin deh, gue udah jauh-jauh berangkat dari rumah ke kampus (jarak rumah gue ke kampus itu memakan waktu 2 jam), eh sampai kampus malah semua mata kuliah kosong gara-gara para dosen lagi ada pelatihan. Itu kenapa nggak ngomong dulu sebelum-sebelumnyaaa?

Pukul 10.30 gue sama temen-temen langsung cabut ke Gramedia buat cari bukunya Hermawan Kertajaya, Ibrahim Manullang, sama Stepen R. Covey. Sampai di Gramedia ternyata semua buku itu lagi kosong. 

Pukul 11.30 kami langsung tancap ke Salemba yang ada di Giant. Dari lantai satu ke lantai dua. Kosong. Naik lagi ke lantai tiga. Kosong juga. Ini ke mana lenyapnya Salemba? Gue sama temen-temen mutusin buat turun, tanya ke satpam.

"Pak, Salemba ada di lantai berapa ya?"

"Duh, Salemba sudah nggak di sini...." Sial, gue baru inget, terakhir kali gue ke sini udah tiga tahun yang lalu. Dan selama itu ini gedung Giant makin lama makin sepi. 

Pukul 12.00 kami nyebrang ke Sri Ratu, kebetulan tempatnya nggak jauh dari Giant. Entah namanya toko buku apa, yang pasti di Sri Ratu toko bukunya sepi banget. Gue sampai nggak ngeh kalau di situ jual buku. Habisnya nggak ada yang nungguin sih. Gue cari dari satu rak ke rak lain. Kosong juga. Kami cabut lagi.

Pukul 12.30 perut keroncongan. Oke, mampir cari makan. Pukul 14.00 tancap lagi ke Toga Mas. 

"Mas, bukunya Hermawan Kertajaya ada nggak?" 

"Duh, kosong Mbak...."

"Kalau Stephen R. Covey?"

"Kalau itu nggak ada...."

"M. Manullang?"

"Nggak ada juga, Mbak...."

Nyet! Tutup aja toko buku lo! Akhirnya hari ini gue pulang dengan tangan hampa. Oke, bad day....


NB: Dicari, toko buku yang menyediakan buku-buku Hermawan Kertajaya, Stephen R. Covey, dan M. Manullang. Call me, available to 24 hours per day.
 
Blogger Templates