Social Icons

Pages

Tampilkan postingan dengan label Cerita Ringan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Ringan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Oktober 2013

Love? [Repost]

Orang-orang bilang dia adalah psikopat. Aneh dan tak wajar. Tapi, di mataku dia beda. Unik. Bukan ku menutup mata atas semua kelakuan ganjilnya, namun aku malah melihatnya sebagai daya tarik. Sorot matanya yang tajam seakan ingin menelan hidup-hidup setiap orang yang ada di hadapannya itu telah membuatku jatuh hati. Juga cekungan di sekeliling bola matanya yang menghitam adalah pesona tersendiri. Rambut gimbal dan bibir yang pucat, itu eksotis menurutku. Aku benar-benar tak peduli ketika orang lain sudah menganggapku gila karena penilaianku itu.

"Dia psikopat, tak normal!” ucap seorang teman padaku.

“Tidak, dia hanya sedikit berbeda dari orang kebanyakan dan itulah yang membuatnya menarik. Aku suka.”

"Apa kau tak ingat Wati, Ningsih, Wulan, juga Kinan?”

“Aku ingat. Tapi aku tak percaya!” tegasku. Palu sudah kuketuk dan telah kuputuskan untuk menutup telinga rapat-rapat dari gunjingan orang yang selalu berdengung seperti tawon di telinga. Terserah orang mau menganggapku bebal atau apa. “Inilah cinta, kawan!” ucapku dalam hati.

Tanpa kuduga, dia membalas perasaanku, masih dengan sorot tajam matanya. Dia telah menabuh genderang dalam hatiku dan menghapus kidung sunyi yang telah lama bersemayam dalam jiwa. Aku bahagia, walau kutahu orang lain semakin cemas melihatku terseret lebih jauh ke dalam lingkaran hidup lelaki bermata sayu itu.

Suatu sore, lelaki itu mengajakku bertandang ke rumahnya. Dia bilang akan memperkenalkanku dengan kedua orang tuanya. Tentu saja kuterima dengan senang hati. Dengan sikapnya yang dingin, ia menggandeng tanganku menuju rumah yang sedari telah ia ceritakan. Rumah yang katanya penuh cinta. Tapi, aku tak tahu apa maksudnya.

Rumah itu, mungkin jika orang lain yang melihat akan mengira bahwa itu adalah rumah tua yang tak berpenghuni. Namun, tidak bagiku, itulah lukisan kenyamanan. Cat putih yang sudah kusam dan terkelupas sana-sini. Tumbuhan merambat yang menyelubungi tembok-tembok rumahnya. Tak ketinggalan pohon akasia dan kamboja yang berdiri gagah di depan rumah. Aku menyukainya.

Dia membawaku masuk ke dalam rumah itu. Rumah yang unik, seperti pemiliknya. Dia terus menggandengku hingga sampai ke sebuah ruangan yang berukuran cukup lebar.

“Kamarmu?” tanyaku. Dia hanya mengangguk dan meninggalkanku disana sendirian.

Kuamati sekeliling ruangan itu. Gelap dan pengap. Ia menutup semua jendela dengan gorden yang cukup tebal. Penerangan hanya berupa lampu lima watt yang sudah hampir mati. Bau tak sedap segera saja menusuk-nusuk hidungku. Ah, sepertinya aku pernah mencium bau ini, tapi dimana? Aku lupa.

Ada cermin cukup besar yang bersandar di tembok ruangan itu. Di sisi lain, berhadapan dengan cermin itu, berjejer benda dari kayu seukuran lemari, tapi tak hanya satu, ada lima. Penasaran, kudekati benda itu, kuraba dan kurasakan ada ukiran di situ. Bentuknya unik, seperti benda yang sering kulihat di toko depan rumahku.

“Ada apa?” Aku tersentak ketika mengetahui  lelaki itu sudah berada tepat di belakangku.           
"Eh, tidak. Aku hanya penasaran dengan benda ini,” kutunjuk jejeran benda yang sedari tadi menarik perhatianku itu.

“Oh, itu. Itu cinta,”

“Cinta? Apa maksudmu?” Aku mengerutkan kening. Tak mengerti apa yang dia ucapkan tadi.

"Sebentar lagi kau akan tahu.” Lagi-lagi aku mengerutkan kening. Sedetik kemudian aku baru mencerna kata-katanya saat kulihat sorot tajam matanya yang tiba-tiba berubah. Mataku beralih pada cermin besar yang dipunggunginya itu. Ah, itulah yang kusesalkan. Bola mataku menangkap benda tajam berkilauan tergenggam kuat di balik punggung lelaki itu. Otakku liar berpikir dan akhirnya aku bisa menebak apa yang kira-kira tersembunyi dalam benda yang terbuat dari kayu seperti lemari itu.

Rok Mini [Repost]


"Rok mini masuk kampung ... Rok mini masuk kampung ....” Teriakan orang-orang kampung membahana di seluruh angkasa raya. Gendang telingaku pun  tergelitik untuk terus mendengarkan. Jika dahulu ada yang bilang,“internet masuk desa.” Sekarang muncul lagi istilah, “Rok mini masuk kampung.” Aku tak mengerti apa maksudnya.

Tanpa alas kaki, aku berlari-lari menuju depan rumah demi melihat keramaian yang sedang terjadi. Berbondong-bondong warga kampung mengelilingi gerobak kayu yang di atasnya ada seorang laki-laki gagah dengan toa di tangan. Matanya berapi-api seperti ingin membakar jiwa-jiwa warga kampung yang memang sedang labil. Aku hanya bisa melihat dari jauh karena gerombolan itu sudah begitu membanjiri jalan-jalan becek sehabis hujan.

“Ayo ... ayo ... dibeli-dibeli, murah! Hanya dengan sepuluh ribu sudah dapat tiga potong!” teriaknya pada kerumunan orang-orang yang berdiri di bawahnya.

Ah, apa-apaan ini? Orang itu datang membawa seabrek rok mini yang diobral dengan murah. Tapi, kami orang kampung, takkan menyia-nyiakan uang sepuluh ribu demi sepotong rok mini. Anak-anak kami masih butuh makan.

“Ayo, tunggu apalagi? Kalau tak punya uang tak apa, asal masih ada moral, akhlak, iman dan malu. Itupun bisa ditukar untuk satu rok mini!” teriaknya lantang seperti bisa membaca pikiranku.

Dasar orang gila! Yang lebih gila lagi ternyata warga kampung tertarik dengan penawaran itu. Mereka keluarkan semua apa yang mereka miliki demi sepotong rok mini. Mereka gadaikan moral, iman, akhlak juga rasa malu, mereka tukar semua itu. Tak hanya yang muda, yang tua pun tak kalah saing. Dunia memang sudah gila. Dan aku pun ternyata juga sudah gila, karena ikut mengantre demi mendapatkan sepotong rok mini itu. Rencananya akan kugadaikan santunku, hanya itu satu-satunya yang bisa kutukar. Aku sudah tak mempunyai moral, karena telah lama kugadaikan demi lembaran merah bergambar dua orang pria berpeci. 

-rdp-
19/05/2012

Sirius di Langit Malam [Repost]

"Lihat, itu Sirius!" Kamu menatap ke langit, sambil menunjuk satu bintang paling terang.

"Sirius? Siapa Sirius?" Aku mengernyitkan dahi. Lalu, kamu tarik telunjukmu ke kiri, lalu turun sedikit ke bawah.

"Kamu." Telunjukmu tepat berada di antara kedua mataku. "Kau tak percaya?" Kamu menatap lekat mataku. Dalam, sangat dalam. Degup jantungku berdetak berkali-kali lipat lebih cepat dari sebelumnya.

"Lihat, kamu telah memenjarakanku dalam kedua matamu." Semakin dekat. Dekat dan lekat, hingga dapat kuikuti irama desah nafasmu yang perlahan-lahan kautarik, lalu kembali kauembuskan.

Aku membatu. Bukan kata-katamu tak berhasil meluluhkanku, bukan aku tak dapat merasakan ketulusanmu. Sungguh, bukan itu. Aku tahu, seberapa tulus kamu dengan segala apa yang kamu ucap.

"Kenapa? Masih belum percaya?" Kini tinggal beberapa senti wajahmu di depanku.

"Bukan ...."

"Lalu apa? Apa yang kuusahakan selama ini masih kurang?"

"Bukan ...."

"Apa ada yang kurang dariku?"

"Bukan! Kubilang bukan!" Mataku berkilat, memerah. "Apa kamu tak sadar dengan tembok yang sudah kaubangun sendiri?" Aku memalingkan muka.

"Sayang ... Ayo, berangkat. Aku sudah siap." Dari dalam rumah, Aliya muncul dengan gaun merahnya. Ah, benar-benar mirip seperti aku waktu muda.

"Eh, iya ... ayo!" Kamu, tergagap di depan putriku. Apa sekarang kamu masih bisa melihat Siriusmu ini, sedangkan matahari di sampingmu lebih menyilaukan? Ya, aku memang Sirius. Sirius di langit malammu. 

-rdp-
03/04/2013

Secangkir Teh Pahit [Repost]

Malam ini aku menikmati secangkir teh pahit, ditemani sang rembulan yang tersenyum genit. Sama seperti waktu itu, saat bersamamu. Bedanya, kini kau tak lagi duduk di sampingku, tak ada lagi kata-kata rayuan yang menggetarkan hatiku. Yang ada hanya sebutir mutiara rindu yang tersimpan rapi dalam kotak kehampaan.Kuhirup teh yang mulai dingin, pahit namun wangi. Rasanya masih sama seperti waktu itu, meski kini hanya tinggal secangkir yang ada di hadapku. Sedang yang satunya telah berpindah ke meja yang lain. Mungkin disana cangkir itu telah diisi lagi dengan teh yang berbeda. 


Malam semakin larut, secangkir teh di depanku sudah hampir kandas. Aku menunggu sampai ada yang menuangkannya lagi untukku. Namun, sepertinya suasana mulai sunyi dan tak ada seorang pun yang menghampiriku. Kuputuskan untuk menyudahi ritual minum teh malam ini. Beranjak dari tempatku dan kembali ke geta peraduan.

-rdp-

Dia [Repost]

Pagi sempurna, mentari yang hangat dan kopi. Aku sedang duduk berhadapan dengannya. Dia yang selalu memompa denyut jantungku hingga berkali-kali lipat. Dia yang selalu mengisi segala titik dalam fokusku. Dia yang namanya selalu hadir dalam catatan harianku. Dia, yang selalu kucintai.

Aku hanya menatapnya menikmati selembar koran yang baru saja dia rebut dari tanganku. Selalu begitu, tapi aku tak pernah bisa marah padanya. Aku hanya diam dan tersenyum melihat mulutnya penuh dengan roti bakar. Selalu begitu, makan sesuka hatinya, tak peduli bagaimana berantakannya lipstik yang baru saja ia poleskan dengan hati-hati ke bibirnya. Dan, aku hanya bisa tersenyum, tak lebih.

Berkali-kali kucoba menata hati, mencoba berdamai dengan perasaan ini, namun selalu gagal. Dia selalu merusak segala sesuatu yang sudah tertata dengan baik di dalam sini. Hatiku. Aku selalu mencoba merumuskan pola kalimat yang akan kututurkan padanya, namun lagi-lagi aku gagal. Kata-katanya selalu berhasil mengunci mulutku sebelum sempat kuluncurkan huruf pertama dari serangkaian kata-kata yang telah kususun dengan rapi.

Mungkin aku memang tidak ditakdirkan untuk mengutarakan isi hatiku padanya, tapi aku yakin suatu saat pasti ada sedikit celah. Aku yakin pasti akan menemukan kunci untuk membuka mulutku saat kata-katanya mulai menguncinya.

"Parjo, mobil sudah dipanaskan belum?" Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya, tanpa perlu memutar lehernya ke arahku.

"Sudah, Non. Mau berangkat sekarang?" Lagi-lagi aku dipukul mundur. Ah, sudahlah, mungkin lain kali.

-rdp-
06/03/2013

Dunia Aku dan Kamu [Repost]

Hari ini aku melihatmu lagi. Masih sama seperti biasa, kamu cantik. Masih sama seperti biasa pula, aku mencintaimu. Tak pernah berubah. Aku selalu melihatmu, selalu. Namun, tak pernah sekalipun kamu coba melihat ke arahku. Ke tempat seseorang yang telah lama diam-diam menitipkan hatinya padamu. Kamu, tak pernah sekalipun, walau hanya sekadar melirik.

Hari ini aku melihatmu lagi. Masih sama seperti biasa, kamu cantik. Masih sama seperti biasa pula, aku tersiksa. Kamu bersamanya, seolah-olah aku hanya debu yang beterbangan dalam dunia yang kalian ciptakan sendiri. Meski sekuat apapun hatiku berteriak, kamu tak pernah mampu mendengarnya, pula merasakannya. Aku hanya seorang figuran dalam skenario kalian. Hatiku menjerit, hatimu berkelit.

Hari ini aku melihatmu lagi. Tak sama, kamu lebih cantik. Tak sama, kamu mendekat padaku. Aku terkesima, matamu menatap mataku. Kamu membelai hatiku, aku tersipu. Saat inilah aku yakin, duniamu berpindah padaku. Kamu berpijak pada bumi yang sama denganku. Kita berdua -aku dan kamu- melewati detik-detik yang selalu kunanti.

Hari ini, saat kamu melihatku dan aku melihatmu, dia datang lagi. Menarikmu, membawamu pulang ke dunia kalian. Saat inilah duniaku runtuh. Dunia kita, yang baru saja tercipta tiba-tiba hancur. Duniaku dan kamu telah kiamat. Aku berlutut, kamu beringsut. Hatiku kalut, semua terenggut.

-rdp-
06/03/2013

Senin, 19 Agustus 2013

Abstrak #1

"Ke mana?"

Ajaib. Sebelumnya belum pernah kudengar kata itu keluar dari mulutnya. Apa hari ini sedang hujan badai? Kurasa tidak. Apa aku sedang berhalusinasi? Tidak mungkin!

Aku melirik ke arahnya. Masih sibuk dengan majalahnya. Apa benar itu tadi keluar dari mulutnya? Bahkan tidak sedikitpun matanya beralih dari lembar-lembar berwarna itu. 

"Apa perlu kuulang sampai dua kali?"

"Ah... ya? Mau ke musholla." Sial. Aku gelagapan.

"Ow...." 

Hanya itu? Okay, normal. Seperti biasanya. 

"Mau ikut?" 

Sesekali biar kucoba mengajaknya bergurau. Well, sebenarnya bukan sebatas 'gurauan'... if you know what I wanna talk to you....

"Jangan bercanda!"

Hmm... mungkin lain kali akan berhasil. Setidaknya kata-kata itu tidak diikuti dengan lipatan-lipatan aneh di wajahnya. Aku sejenak menahan langkahku agak lebih lama. Jarang-jarang dia bicara banyak. Sepertinya hari ini mood-nya sedang cerah.

"Kenapa? Aku tak mengajakmu ibadah, hanya mengajakmu pergi keluar." 

"Aku tidak mau. Sampaikan saja salamku pada-Nya!" 

Aku terusik dengan kata-katanya. Ingin tertawa, tapi kutahan. Aku tahu apa akibatnya kalau sampai kelepasan.

"Siapa?" Pancingku.

"Tuhan."

"Apa itu artinya kau masih percaya Tuhan? Kau kan atheis." 

"Sudahlah... pergi sana!" 

Hahaha... semoga Tuhan melindungimu. :)
 
~rdp~
29-06-2013

Oh

Hari ini panas, luar-dalam. Tak... tik... tak... tik.... Suara jam gue beda.

"Lihat, bagus kan?" Tumben, tanya duluan.

"Apanya?"

"Ya gambarnya lah...."

"Cantik."

"Apanya?"

"Ya talent-nya lah...."

"Ah, murah itu. Lima puluh ribu, bisa liat dia telanjang. Sering beli aku... sebulan sekali."

"Hah?"

"Di lapak koran... banyak!"

"Oh...."

"Kenapa kau?"

"Nggak papa...."

Hahaha... syukur, ternyata masih suka dia sama cewek. Kupikir udah nggak straight lagi. :D

~rdp~
10-05-2013

Kau dan Pintu Itu

Kau, ya kau yang sudah berdiri tepat di depan pintu itu, perlahan-lahan mulai mengetuk pintu hatiku. Tanpa kusadari perlahan-lahan kuintip kau dari balik pintu itu. Kutatap wajahmu yang tampak semu, entah kenapa terlihat buram. Kutanya apa perlumu, dan kau menjawab ingin singgah. Aku lantas tersenyum, tapi pintu itu belum juga kubuka untukmu. Lama aku berdiri di balik pintu itu sambil mendengar celotehmu dan tanpa sadar aku terhanyut olehmu. Benar-benar gila. 

Waktu terus bergulir, kakiku sudah pegal berdiri di balik pintu itu, namun kau belum juga beranjak dari sana. Kau bilang akan terus menunggu sampai aku membukakan pintu itu untukmu. Tentu saja aku merasa sangat tersanjung. Tapi, segera kutepis itu semua. Aku sadar, jika aku membuka pintu itu kau akan terjebak di dalamnya dan tak akan pernah keluar lagi. Aku takut kau akan mati pelan-pelan karena di dalam tersimpan serigala yang sedang kelaparan. Aku takut kau tak akan kuat bertahan. Maka dari itu, aku memutuskan untuk mengunci rapat-rapat pintu itu. Dengan kasar kuusir kau agar menjauh dari situ. Namun apa? Kau tak juga beranjak. Aku putus asa, tak tahu lagi apa yang harus kuperbuat untuk menjauhkanmu dari pintu itu. Akhirnya, akulah yang harus menjauh. Sesaat terasa ada yang hilang dan segeralah sunyi datang menyergap. Tapi, aku harus bertahan meski tenggorokan serasa tercekik. 

Beberapa waktu berlalu, aku kembali. Aku kaget setengah mati ketika mendapatimu masih di depan pintu itu. Masih dengan senyum yang sama kau berdiri tanpa bergeser sedikitpun dari sana. Aku bingung, tak tahu harus berbuat apa. Apa aku harus membuka pintu itu untukmu dan membiarkan kau menghadapi serigala yang semakin kelaparan itu? Atau harus aku menjauh dan kembali bercumbu dengan kesenyapan? Ah, ini benar-benar membuat dilema. Yah, akhirnya kuputuskan untuk menjauh (lagi) meski kutahu kita akan sama-sama terluka. Tapi, setidaknya kau masih bisa hidup dan tak harus meregang nyawa di mulut serigala kelaparan itu. 
 
~RDP~
30-05-2012
 
Blogger Templates